News: Iptek | Ekobis | Sospol | Idealis | Seni | Figur | Sejarah | Wacana | Ragam | Edukasi | Nusantara |
Truths: Orient | Ausie | Asite | Timteng | India | Afrika | Northam | Latin | Eropa | Rusia | Erotim | Pasifik | Asteng |
Views: Tinjau | Sorot | Ulas | Redaksi | Perspektif | Kritik | Dialog | Sidik | Bisnis | Strategis | Riset | Atlantis | Interfaith |
Hari ini:

Join us on Facebook

NEWS & BLOG

Ulama & astronom masih debat Idul Fitri

08 September, 2011 Oleh: Ali Cestar

Ulama & astronom masih debat Idul FitriUlama & astronom masih debat Idul FitriKapan ketika bulan adalah bulan baru? Itulah pertanyaan yang kerap menyulitkan para astronom Islam. Kontroversi terkini datang dari Saudi setelah muncul tuduhan dari para astronom bahwa Arab Saudi mengambil keputusan salah dalam penentuan Idul Fitri kemarin. Pasalnya yang dilihat bukanlah bulan melainkan Saturnus.

SURAU : Akhir-akhir ini perayaan Idul Fitri kerap diwarnai beda argumen di antara otoritas berwenang dalam Islam mengenai kapan berakhirnya Ramadhan dan awal Syawal.

Pada tahun ini ada pula perbedaan apakah Idul Fitri jatuh pada akhir Senin atau akhir Selasa.

Menurut instruksi di zaman Rasul Muhammad, Muslim hanya bisa mengakhiri puasa ketika bulan muda terlihat di atas horizon.

Dulu komunitas Muslim mengandalkan panitia lokal terdiri para astronom dan pakar untuk memastikan bulan baru atau hilal.

Kini sejumlah besar masjid di penjuru dunia memilih mengacu pada otoritas Saudi untuk memutuskan kapan Idul Fitri dimulai.

Pekan lalu para ulama Saudi mendeklarasikan bahwa akhir Ramadhan dimulai pada Senin senja sehingga perayaan dan takbir menyambut Idul Fitri bisa dilaksanakan.

Namun negara lain tidak cukup yakin. Indonesia, adalah salah satu negara yang kerap tidak sejalan dengan keputusan Saudi mengenai Hilal.

Pemerintah Indonesia berkeyakinan bahwa perayaan Idul Fitri bisa dimulai Selasa malam.

Yang menarik, berdasar pemantauan Kerajaan Inggris pekan lalu, hilal bisa dilihat di Inggris pada Rabu, yang berarti Selasa adalah akhir Ramadhan.

Namun kondisi itu tak menghentikan masjid-masjid di Inggris mengikuti Saudi dan mulai mengumandangkan takbir pada Senin malam serta menggelar shalat Id pada Selasa.

Beberap astronom di Teluk menyimpulkan bahwa objek yang diklaim Saudi sebagai hilal di langit pada malam Senin faktanya adalah Saturnus.

Kontan saja tuduhan itu memicu kemarahan ulama Kerajaan Saudi.

Para ulama pun segara mengeluarkan kotbah bantahan terhadap mereka yang menyimpulkan salah.

Menurut situs berita Arab News, Grand Mufti Abdul Aziz bin Abdullah al-Asheikh mengecam tudingan terhadap pengamatan hilal pada kotbah Jumat dan menuding balik sikap mereka sebagai orang-orang dengan omong besar yang meragukan keagamaan Saudi dan seharusnya tutup mulut.

Ulama & astronom masih debat Idul Fitri

Pertikaian itu juga merambah kawasan Iran yang dikenal keras terhadap Arab Saudi karena mereka tak bisa menoleransi pandangan Syiah.

Sejumlah ulama Iran menyatakan bahwa rakyat Saudi harus membayar kaffarah atau denda karena kehilangan satu hari Puasa.

Hingga kini belum ada komentar lebih lanjut dari otoritas Saudi.

Sejumlah ulama konservatif mengancam akan menggugat astronom dan ilmuwan Arab Saudi bernama Khaled Al-Zaaq yang meragukan kesaksian warga yang melihat bulan sabit Syawal terlihat pada 29 Ramadan 29 (29 Agustus).

Setelah mengonfirmasi kebenaran dari kesaksian orang-orang, komite hilal Arab Saudi menyatakan akhir bulan puasa Ramadan dan menandai munculnya Idul Fitri pada hari berikutnya (Selasa, 30/8).

Ancaman itu datang di tengah perdebatan antara para sarjana Muslim dan astronom tentang kemungkinan penampakan bulan pada 29 Agustus.

Menurut kalender Islam, bulan-bulan Arab dapat berupa 29 atau 30 hari paling lama.
Pada banyak kesempatan, Idul Fitri telah dirayakan setelah hanya 29 hari puasa.

Namun, tahun ini perdebatan berubah panas setelah Al-Zaaq secara luas dikutip oleh pers lokal dan situs elektronik yang menyebutkan tidak ada cara untuk melihat bulan sabit pada malam 29 Ramadan.

Sejumlah astronom Saudi telah mengeluarkan pernyataan pers menyatakan bahwa bulan tidak bisa terlihat.

Tapi, para ulama Islam yang terkenal membela kesaksian dari orang-orang yang melihat bulan dan berkata Idul Fitri datang di waktu yang tepat.

Mufti Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Asheikh dalam khutbah Jumat pekan lalu di Masjid Imam Turki bin Abdullah di Riyadh menggambarkan orang-orang yang meragukan bulan terlihat sebagai orang yang ingin menyimpangkan warga dengan mulut kotor.

Republika / Media Indonesia / Antara

Email:
New Page 1

  • Minangkabau Hebrew
  • Minangkabau English

    Minangkabau English

  • Minangkabau Hebrew

    SurauNet is the islamic knowledge assembly promoting love, peace & brotherhood.
    Hak Cipta dilindungi UU - MISN 2011 | Web development: Kliping Online