News: Iptek | Ekobis | Sospol | Idealis | Seni | Figur | Sejarah | Wacana | Ragam | Edukasi | Nusantara |
Truths: Orient | Ausie | Asite | Timteng | India | Afrika | Northam | Latin | Eropa | Rusia | Erotim | Pasifik | Asteng |
Views: Tinjau | Sorot | Ulas | Redaksi | Perspektif | Kritik | Dialog | Sidik | Bisnis | Strategis | Riset | Atlantis | Interfaith |
  • Editor's Picks
  • Cestar's Blog

  • Name Chemistry
    Panduan teknis | Become a fan |

    (Catatan: mohon maaf jika ada nama-nama yang merasa tersinggung dengan tulisan ini karena tiada maksud merendahkan dan iktikad buruk lainnya dari penulis terhadap nama-nama tersebut selain sebagai amsal atau perumpamaan semata. Harap maklum).

    "Apalah arti sebuah nama," demikian kira-kira idiom yang sering terdengar yang kesannya agak menyepelekan makna sebuah nama.

    Padahal, Islam sangatlah memuliakan nama.

    Al Quran, misalnya, menggambarkan bagaimana nama-nama perlu disebutkan secara teliti dan akurat, termasuk jika ada perubahan yang memang dirasa perlu (seperti Ahmad menjadi Muhammad).

    Konsep ‘what’s in a name’ dalam Islam berperan cukup dominan. Bahkan umatpun diajak untuk mengenal Tuhan lewat nama-nama-Nya (Asma’ul Husna).

    Jangan sembarangan memberi nama anak, a.l. karena nama:

  • Akan disandang Sang Anak seumur hidupnya.
  • Membawa dampak psikologis kepada Sang Anak.
  • Mencerminkan doa dan harapan orangtuanya.
  • Dan gelar para nabi / rasulpun dipilihkan Tuhan dengan seksama.
  • Mempengaruhi interaksi sosial dan lingkungan sekitarnya.
  • Memotivasi anak untuk mencapai tekad dan cita-citanya.
  • Bukti kepedulian & cinta kasih orangtua pada masa depan anaknya.
  • Adalah monumen hidup yang filosofis dan dinamis.
  • Dalam nama biasanya terkandung sifat (seperti pada Asma’ul Husna).

    Kenapa perlu konsultan nama?

  • Mengetahui dan meminimalisir adanya konflik makna pada nama anak.
  • Mencarikan nama anak yang bisa diterima luas di kancah pergaulan internasional
  • Menyiapkan konsep nama yang mendukung anak menjadi seorang figur.
  • Menyiapkan anak untuk hidup pada zaman anak itu sendiri.
  • Membuka potensi bakat (multi-talent) dari dalam diri Sang Anak.

    Konflik makna pada nama anak, contoh:

    'Sari' di Indonesia adalah nama yang cukup lazim dipakai dan indah terdengar di telinga. Di India, sari adalah sejenis pakaian perempuan. Sementara, dalam bahasa Quran, 'sarri' berarti keburukan atau kesukaran.

    'Ismi' adalah nama yang manis didengar. Indah, jika dilafazkan ismi (dengan s) yang berarti 'namaku' bukan itsmi (dengan ts) karena dalam bahasa Quran, itsmi berarti keburukan.

    Diterima luas di kancah pergaulan internasional

    Sesuai namanya, Indonesia adalah sebuah bangsa hasil peranakan berbagai suku-suku di dunia (indo). Karena itu, pemberian nama anak tidak mutlak mengacu pada kebiasaan satu bangsa saja, seperti Arab, India atau Inggris, misalnya.

    Namun khusus bagi keluarga Muslim, kita dapat memberi nama anak yang bisa diterima secara global, namun tidak kehilangan makna islaminya.

    Kata kuncinya adalah 'islamiyah' bukan arabiyah ataupun europiah semata.

    Contoh, jika nama-nama seperti Bakar atau Bakri khawatir berbau terlalu Arab, bisa saja Anda akali dengan nama-nama seperti Baker (Inggris) atau Buccart (Prancis) yang berbau Barat atau yang local content seperti Bugar, Bagir, dll.

    Tapi Anda termasuk orang yang tidak suka nama yang kebarat-baratan, dan nama lokal dirasa kurang memadai, tapi ingin anak Anda acceptable di manapun ia berkiprah nantinya, maka Anda 'mungkin' perlu jasa konsultasi nama.

    Menembus ruang dan waktu (dimensional).

    Orangtua dalam memberi nama anaknya biasanya berpatok pada kelaziman yang berlaku pada zaman orangtua itu hidup, bukan pada zaman saat anak itu nantinya menjalani hidupnya sendiri (dimensi yang berbeda jauh).

    Orangtua cenderung memberi nama anak sesuai mood (suasana hati) saat itu, sementara mood seseorang terus berubah seiring berjalannya waktu dan perubahan keadaan.

    Contoh, ada orangtua yang begitu bencinya pada seorang diktator sampai-sampai memberi nama anaknya 'Ganyang Sang Diktator' misalnya.

    Tapi ketika zaman berubah dan diktator itu jatuh dari tampuk kekuasaannya atau masuk kubur, nama anak tersebut menjadi tak relevan lagi karena Si Anak toh akhirnya hidup di zaman yang sudah demokratis dan serba terbuka.

    Bahkan, kalau dibawa ke konteks akhir abad-20, dimensi zaman tersebut disebut ‘zaman global’ dan pada awal abad-21 ini disebut 'zaman online.' Perlukah nama-nama yang dikira bisa melintasi zaman-zaman ke depan?

    Arab, Sanskerta atau Ibrani?

    Kebanyakan nama Muslim di Timur Tengah berasal dari bahasa Arab seperti Ali, Syamsul, Amir, Arif, Zainuddin, Ayub, dll.

    Nama-nama orang Eropa umumnya berasal dari bahasa Yahudi (Ibrani) seperti Paul, David, Mary, Joseph, Abraham, John, Jones, Tamara, Simon, Joshua, Benjamin, dll

    Sementara Muslim di Indonesia beragam antara Arab (seperti contoh di atas) dan Sanskerta.seperti Panji, Dewi, Sari, Wulan, Dewa/Dewo, Satria/Satrio, Surya, Ratna/Retno, Bayu, Sukma, dll.

    Bagaimana cara 'meramu' nama-nama anak agar bisa diterima oleh ketiga kelompok bahasa utama di dunia itu (setidaknya meminimalisir arti-arti negatif), namun tetap memiliki kekuatan makna yang filosofis dan islamiyah.

    Untuk mendapatkan 3 (tiga) alternatif nama untuk anak Anda, isilah formulir dengan benar.

    Setiap nama yang kami kirim akan dilengkapi dengan berbagai penjelasan makna tekstual, kontekstual maupun konseptual (filosofistik) yang terkandung di dalamnya baik dari aspek linguistik maupun studi islamik.

    Semua keterangan di atas juga berlaku untuk pemberian nama perusahaan, merek, produk, logo dan entitas lain-lain.

  • SurauNet is the islamic knowledge assembly promoting love, peace & brotherhood.
    Hak Cipta dilindungi UU - MISN 2011 | Web development: Kliping Online