Teroris salah memaknai arti jihad

Aksi teroris dan radikalis telah menjadi ancaman keamanan dalam berbangsa serta bernegara. Meski beberapa sudah ditangkap, namun aksi para pelaku tetap terjadi. Yang teranyar adalah tewasnya dua teroris di Depok oleh Tim Densus 88 saat patroli. Berkaca dari hal tersebut, perlu adanya cara dalam berdakwah yang menunjukkan Islam yang damai dan anti kekerasan.

SERANG (SurauNet): Hal tersebut diungkapkan Direktur Lembaga Kajian Ke-Islaman Darul Fattah, Achmad Solechan dalam Halaqoh Kebangsaan di Ponpes Nurul Bantany Serang, Banten, kemarin.

Menurutnya, cara-cara dakwah yang dijalankan para teroris dan ekstrimis tidak bisa dibenarkan secara agama serta hukum Negara.

“Apa yang mereka lakukan dengan aksi kekerasan adalah menyalahi fitrah sendiri serta bertentangan dengan ajaran Allah,” ujar dia melalui siaran persnya kepada JawaPos.com, Jumat (29/6).

“Nabi Muhammad dalam menjalankan dakwah penuh dengan kelembutan dan anti kekerasan. Ini diteruskan para Wali Songo yang menyebarkan dakwah Islam di Jawa melalui akulturasi budaya dan kelembutan,” lanjutnya.

Menurutnya, pemaknaan jihad yang diyakini para teroris tidak bisa dibenarkan dengan memahami ayat-ayat Al-Quran secara sepihak.

Yakni meyakini ayat berisi ajakan perang dan menghapus semua ayat tentang hubungan damai.

Untuk itu, lanjutnya, sudah selayaknya mengikuti ajaran dan meneladani dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.

“Hari ini, Indonesia sedang dihadapkan beragam kenyataan berkembangnya beragam aliran keras dan tumbuhnya semangat beragama dengan menjadikan dirinya seorang yang berjihad dalam arti yang keliru,” beber Achmad.

Mereka, Lanjut Achmad, rela menjadi pengantin yang siap menjadikan dirinya sebagai pelaku bom bunuh diri demi memenuhi pelaksanaan jihad sebagaimana yang dipahaminya.

Dirinya berharap dengan dakwah dengan damai diharapkan sampai pada sasaran.”Dengan adanya Halaqoh bisa memberikan pemahaman pemaknaan berjihad sesuai ajaran Islam,” kata dia.

Turut hadir dalam acara Halaqoh Kebangsaan dengan tema ‘Islam dan Dakwah: Jalan Damai Islam dalam’ itu, Mufti Ali (Peneliti dan Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin), Imdadun Rahmat (Peneliti LKI Darul Fattah) dan Fatkhuri Wahmad (Pengasuh Ma’had Al Bahrain).

Tantangan Dakwah

Dalam paparannya, Mukti Ali mengungkapkan bahwa dakwah yang dilakukan dengan cara instan tidak akan berhasil.

Pasalnya, dalam berdakwah ada yang namanya hikmah dan keteladanan. Hal itu sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad dan Wali Songo.

“Melalui Pesantren salaf dengan pengajaran ilmu agama Islam secara terus menerus, bersambung sanadnya. Ditambah nilai religiusitas dan keihlasan pengajarnya telah mengikis radikalisme,” lanjutnya.

“Apalagi, di Banten aksi terorisme dan radikalisme terkikis dengan adanya Pesantren salaf,” sambung peneliti sejarah Banten ini.

Dia mencontohkan bagaimana para tokoh kharismatik dari Banten yang ikut melawan penjajahan adalah tokoh Islam. Menurutnya, dengan keteladanan dan kebijaksanaannya dalam berdakwah menunjukkan Islam damai.

“Dengan keteladanan, kearifan, ketawadhuan (rendah hati) para Pengajar di Pesantren ini dalam waktu yang lama dan terus menerus mengajarkan Islam yang damai,”paparnya.

Sementara Imdadun Rahmat mengungkapkan bahwa esensi dari dakwah adalah ajakan, rayuan dengan kelembutan. Menurutnya, dakwah bil hikmah sudah diajarkan Nabi Muhammad.

Bahkan, lanjutnya, dalam berdebat hendaklah dengan cara yang baik. “Inti dari dakwah adalah ajakan dengan kelembutan. Kalau dengan paksaan dan kekerasan itu sudah kontra produktif,” pungkasnya. (jawapos.com)

Leave a Reply