Toleransi perlu diterapkan secara proposional

Pengaplikasian toleransi di tengah kehidupan masyarakat yang beragam mesti proporsional. Kelompok mayoritas akan berdosa kalau dengan kekuatannya menekan atau bahkan mengintimidasi kelompok minoritas.

BEKASI (SurauNet): Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi, Ayi Nurdin, saat diskusi di Sekretariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Jl Veteran 22, Margajaya, Bekasi Selatan, Jum’at (29/6)

“Selain itu juga, minoritas tak perlu nakal atau centil dengan berulah agar mayoritas memahaminya. Selama ini toleransi di Indonesia, dan khususnya di Kota Bekasi cenderung seperti dipaksakan,” lanjutnya.

Pendiri Yayasan Lembaga Hukum (LBH) NU ini menambahkan, memaksakan orang lain untuk berlaku toleran merupakan perbuatan yang intoleran. Maka, untuk bisa menciptakan masyarakat yang toleran, dibutuhkan sikap saling mengerti antara mayoritas dan minoritas.

“Selama ini kita seringkali mendapati kondisi masyarakat, terutama mayoritas yang memaksakan kehendak pada minoritas untuk bisa bersikap toleransi atau memaklumi segala macam perbuatan yang dilakukan oleh mayoritas,” kata pria yang berprofesi sebagai pengacara ini.

Proporsionalitas itulah, lanjut Ayi, yang harus ditegakkan dalam rangkan menciptakan rasa toleransi. Antarwarga masyarakat harus saling memahami porsinya masing-masing. Tidak perlu memaksakan kehendak atau menampilkan perbuatan agar dimaklumi oleh kelompok yang berbeda.

Pria kelahiran Cianjur ini pernah juga mengatakan bahwa toleransi tidak bisa dijadikan alat ukur untuk menciptakan kerukunan. Sebab, toleransi adalah tingkatan awal membangun sebuah kerukunan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

“Setelah toleransi, jika kita ingin hidup rukun, maka mulailah untuk bisa menciptakan kesetaraan. Artinya, istilah mayoritas dan minoritas sebisa mungkin untuk dihilangkan. Cari kesamaan di antara perbedaan-perbedaan yang ada,” katanya.

Menurut Ayi, kerukunan akan tercipta kalau ada kerja sama lintas iman dan agama. Ia bercerita di LBH NU, tidak hanya orang Islam saja yang bekerja. Akan tetapi ada juga umat Kristiani, dan bahkan didominasi oleh orang bersuku Batak.

“Teman saya, ada yang pernah mendeklarasikan, walau dengan nada guyon, kalau dirinya adalah Kristen-NU. Bahkan, dia ingin jadi pengurus di struktural organisasi NU. Ini kan aneh,” kisahnya.

Dengan penuh kebijaksanaan, Ayi mengatakan bahwa untuk bisa menjadi pengurus di NU, tahap awalnya adalah beragama Islam. “Bagaimana mungkin ada orang Kristen tapi ngurus NU? Maka itu, proporsionalitas mesti dijaga dalam menjaga hubungan antaragama,” pungkasnya. (nu.or.id)

Leave a Reply