Penghayat kepercayaan masih takut atau ragu-ragu?

Pemuka penghayat aliran kepercayaan di Kota Bekasi, Jawa Barat, Nurjan mengatakan, sekitar 60 persen kelompoknya belum mengubah kolom agama meskipun MK telah memutuskan bahwa aliran kepercayaan bisa dimasukkan dalam kolom agama. Ada kekhawatiran dalam diri mereka.

BEKASI (suraunet): “Belum mengubah karena khawatir kesulitan memperoleh pendidikan dan pekerjaan,” kata Nurjan di Bekasi, Senin (30/7).

Nurjan mengatakan, jumlah penghayat aliran kepercayaan di Kota Bekasi yang wajib mempunyai KTP mencapai 1.300-an.

Mayoritas bermukim di Kecamatan Jatisampurna. Di kecamatan itu pula, pemerintah menetapkan kampung Pancasila atau kampung toleransi.

Menurut Nurjan, yang belum mengubah kolom agama masih mendompleng ke agama lain. Mayoritas mereka mendompleng ke Agama Islam atau agama mayoritas di Kota Bekasi maupun Indonesia.

Sejak MK mengabulkan gugatan uji materi terhadap Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan pada akhir November tahun lalu, beberapa penghayat aliran kepercayaan mulai mengubah kolom agama.

“Sudah sekitar 40 persen yang telah mengubah kolom agama menjadi penghayat kepercayaan,” kata dia.

Nurjan mengapresiasi peluncuran sistem informasi administrasi kependudukan (SIAK) versi 7 dari Kementerian Dalam Negeri. Menurut dia, versi tersebut sudah disosialisasikan beberapa waktu lalu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur.

“Dengan versi baru, lebih mudah mengubah maupun membuat KTP baru,” kata dia.

Sekretaris Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kota Bekasi, Jamus Rasidi mengatakan, format baru SIAK belum bisa diaplikasikan karena Kemendagri masih mematangkan sistem tersebut. Pihaknya berharap pada Agustus sistem baru bisa digunakan.

“Kami masih pakai versi 6, bedanya tidak ada kolom penghayat kepercayaan, di sistem lama hanya diberi tanda strip (-), kalau versi baru ada kolom penghayat kepercayaan,” kata Jamus.

Data dari Disdukcaspil Kota Bekasi, jumlah penduduk yang wajib KTP di wilayah tersebut sebanyak 1.778.265 jiwa per April lalu, sedangkan jumlah penduduk mencapai 2,6 juta jiwa. Dari penduduk yang wajib KTP sebanyak 1.710.686 sudah melakukan perekaman KTP Elektronik.

Buka kelas

Sekitar 200 penghayat kepercayaan di Desa Adiraja Kecamatan Adipala Cilacap menerima sosialisasi tentang Pendidikan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, di padepokan desa setempat, Minggu malam (29/7).

Jaminan pendidikan bagi siswa penghayat ditegaskan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Keuydayaan (Permendikbud) Nomor 27 tahun 2016.

Peserta sosialisasi adalah para orang tua dan anak yang berkepentingan terhadap pendidikan tersebut.

Mengenakan pakaian adat Jawa atasan hitam, mereka duduk hikmat mendengarkan sosialisasi yang disampaikan pegurus Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) Basuki Rahardja mengatakan, sosialisasi pendidikan ini diadakan atas permohonan Paguyuban Resik Kubur Jero Tengah (PRKJ) di Desa Adiraja Adipala.

PRKJ merupakan satu di antara paguyuban penganut kepercayaan dengan populasi terbesar di Kabupaten Cilacap, sekitar 40 ribu orang.

Kegiatan ini sekaligus bagian dari penguatan terhadap perjuangan para penghayat dalam memperoleh hak di segala bidang.

“Kami kan mitra pemerintah, jadi sosialisasi ini memberikan pemahaman bagi orang tua mengenai aturan pemerintah tentang pendidikan bagi penghayat. Biar mereka tidak bingung,”katanya

Dalam sosialisasi itu, pihaknya menjabarkan regulasi yang mendasari penyelenggaraan pendidikan bagi siswa penghayat.

Pihaknya juga menyampaikan prosedur formal untuk mengajukan pelayanan pendidikan kepercayaan kepada pihak sekolah atau pemerintah.

Untuk mendapatkan pelayanan pendidikan itu, anak penghayat harus membuat surat pernyataan yang ditandatangani orang tua.

Surat itu berisi permohonan kepada pihak sekolah atau pemerintah untuk melayani haknya dalam mendapatkan pendidikan sesuai kepercayaannya.

Surat yang diajukan ke sekolah itu kemudian diteruskan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap.
Dinas selanjutnya berkoordinasi dengan MLKI untuk memfasilitasi permintaan siswa di sekolah bersangkutan, termasuk menyediakan guru mapel kepercayaan.

Pasalnya, pihak sekolah maupun pemerintah selama ini belum memiliki tenaga pengajar khusus untuk mapel kepercayaan.

Dalam sosialisasi itu, MLKI turut memghadirkan atau mengenalkan tujuh guru penghayat kepercayaan yang telah tersertifikasi.

Guru-guru itu telah melalui serangkaian diklat sehingga dijamin kompeten dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar.

“Guru disiapkan dari MLKI, ada tujuh yang telah tersertifikasi,”katanya

Basuki mengatakan, layanan pendidikan untuk siswa penghayat di Cilacap menunjukkan kemajuan.

Para anak-anak penghayat yang tersebar di sejumlah sekolah di Cilacap sudah mulai percaya diri untuk menampilkan jati dirinya.

Jumlah siswa yang mengajukan permohonan untuk mendapatkan layanan pendidikan kepercayaan terus bertambah.

Jika tahun lalu ada belasan sekolah yang membuka layanan pendidikan kepercayaan, kini jumlahnya meningkat menjadi 20-an sekolah.

SMP Kristen Adiraja misalnya, dipastikan mengikuti jejak sekolah lain yang membuka kelas mapel kepercayaan. Di sekolah itu, kata Basuki, terdapat lima siswa penghayat yang telah meminta dilayani pendidikannya kepada pemerintah.

“Soal kesejahteraan bagi guru penghayat, pemerintah pasti memikirkannya. Yang penting ibarat kita jalan sudah ada STNK nya dulu,” katanya. (infonewscilacap.com/merdeka.com/ac)

 

 

Leave a Reply