Dilarang sembelih sapi Kurban di Kudus

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari para wali penyebar Islam di tanah Jawa. Salah satunya soal toleransi. Sunan Kudus telah memberikan contoh apik.

JAKARTA (suraunet): Seperti diceritakan oleh Rais ‘Aam Idarah Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman), Habib Luthfi bin Ali bin Hisyam bin Yahya. Ulama yang akrab disapa dengan nama c ini menjelaskan bagaimana sejarah kurban di Kudus, Jawa Tengah, yang tidak menyembelih sapi.

Menurut Habib Luthfi, Sunan Kudus yang bernama asli Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan begitu mementingkan persatuan di masyarakat lokal.

Sunan Kudus sampai melarang umat Islam menyembelih sapi untuk kurban waktu itu.

Sebabnya, sapi merupakan hewan yang dihormati dan dikeramatkan oleh sebagian masyarakat Kudus yang belum memeluk Islam. Sunan Kudus tidak ingin persatuan masyarakat rusak karena penyembelihan sapi.

“Agar dapat diselesaikan dengan damai, Sunan Kudus mengeluarkan kebijakan untuk tidak memotong sapi,” kata Habib Luthfi, dikutip dari NU Online, Rabu 1 Agustus 2018.

Perintah itu didengar oleh petinggi Kudus, Pangeran Poncowati yang belum memeluk Islam. Pangeran Poncowati kemudian menemui Sunan Kudus dan menanyakan apakah larangan menyembelih sapi merupakan ajaran Islam.

Sunan Kudus pun menjawab bahwa Islam memandang sapi bukan sebagai binatang yang diharamkan. Larangan yang diberlakukan Sunan Kudus merupakan penghormatan kepada pemeluk agama lain yang mengkeramatkan sapi.

“Akhirnya Poncowati memeluk Islam dan menyerahkan wilayah kerajaan itu kepada Sunan Kudus,” kata Habib Luthfi.

Tak hanya itu, Sunan Kudus juga memerintahkan umat Islam membangun menara masjid dengan arsitektur khas lokal. Berdirilah menara berbentuk candi yang hingga saat ini dikenal dengan Menara Kudus tersebut.

Sikap toleransi Sunan Kudus tersebut, kata Habib Luthfi, patut menjadi contoh bagi generasi Islam kekinian. Terutama di tahun politik yang sebentar lagi berlangsung, toleransi sangatlah dibutuhkan. (dream.co.id/ac)

Leave a Reply