'Pancasila itu nasionalisme relijius, bangsa Indonesia patut bangga'

Akhir-akhir ini ada sebagian masyarakat, terutama kelompok radikal yang mempertentangkan hubungan antara agama dan nasionalisme. Padahal, semua tahu agama dan nasionalisme adalah senjata bangsa Indonesia meraih kemerdekaan serta merekatkan persatuan dan kesatuan.

JAKARTA (suraunet): Hal tersebut terlihat ketika para ulama beserta para pemimpin nasional lain membahas dasar negara, bentuk negara Indonesia setelah merdeka pada 17 Agustus 1945.

Pembahasan pembahasan itu berlangsung bersama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dimana sejumlah pemimpin Islam, tokoh Islam baik dari Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah ikut bergabung bersama tokoh-tokoh nasional lainnya.

“Para ulama menyepakati dasar negara Indonesia adalah Pancasila. Dengan penerimaan Pancasila itu sebenarnya tidak ada lagi masalah antara Islam dan nasionalisme karena Pancasila itu nasionalisme religius, terutama dalam sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa yang mencerminkan nasionalisme yang religius. Pancasila itu adalah aktualisasi dari nasionalisme religius itu. Jadi sebetulnya masalah itu sudah selesai,” ujar Guru Besar Sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra di Jakarta.

Azyumardi menilai jika ada orang Islam di Indonesia yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme, bisa dikatakan orang-orang itu terpengaruh paham-paham dari Timur Tengah yang menolak nasionalisme.

Pria kelahiran Padang Pariaman, 4 Maret 1955 ini menjelaskan di Timur Tengah ada kalangan muslim menolak nasionalisme dikarenakan bentuk nasionalisme di Timur Tengah itu adalah sekuler dan yang pasti sekularisme tidak cocok dengan Islam.

Ketika orang-orang Islam Timur Tengah menolak nasionalisme. Ironisnya, ada sebagian orang Islam di Indonesia yang tidak paham sejarah dan dinamika konteks politik yang ada di Timur Tengah, malah ikut menolak nasionalisme di Indonesia.

“Nasionalisme yang ada di Indonesia itu nasionalisme religius. Bukan nasionalisme atas dasar prinsip atau paham sekularisme seperti di Timur Tengah. Karena sekularisme di Timur Tengah itu tidak bersahabat dengan agama,” ujar mantan Rektor UIN Jakarta ini.

Ia menegaskan, kalau ada orang yang menolak nasionalisme Indonesia, itu berarti kufur atau mengingkari nikmat. Dalam Islam sendiri mengingkari nikmat itu adalah salah satu dosa terbesar.

Jadi penganut agama apapun khususnya kalau dalam konteks Islam wajib mensyukuri nikmat Allah yaitu telah memberikan Indonesia majemuk, beragam, plural tetapi bersatu.

Dirinya menambahkan, Indonesia yang hampir 73 tahun menginjak usia merdeka juga harus bebas dari radikalisme, ekstrimisme, terorisme.

Untuk itu Islam Indonesia yang biasa disebut Islam wasathiyah yaitu Islam jalan tengah yang merupakan gabungan Islam Nusantara (Nahdatul Ulama/NU) dan Islam Berkemajuan (Muhamadiyah) harus diperkuat.

Dirinya juga meminta kepada masyarakat untuk tidak serta merta atau terpesona pada segala sesuatu yang berbau dengan budaya Arab yang dianggap paling Islami.

Padahal banyak negara-negara di kawasan Arab yang didera konflik berkepanjangan dengan saling membunuh sesama Muslim.

Sementara di Indonesia kaum muslimnya bisa menunjukkan sikap Islami yang sesungguhnya dengan menjaga perdamaian antar sesama umat. Azyumardi menegaskan bahwa di Indonesia tidak ada pertentangan antara Islam dan demokrasi.

Menurutnya, ajaran Islam yang rahmatan Lil Alamin itu kompatibel dan cocok dengan demokrasi di Indonesia. (akurat.co/ac)

Leave a Reply