Cawapres ulama dalam pusaran santri milenial

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memilih Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin untuk mendampinginya dalam ajang pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Dipilihnya pria berusia 75 tahun ini tentu bukan tanpa alasan.

SURABAYA (suraunet): Menurut Guru Besar Komunikasi Politik Universitas Airlangga Surabaya, Henry Subiakto menyangka pertimbangan Jokowi adalah guna menjaga soliditas koalisi partai, menutup munculnya poros ketiga, sekaligus sebagai upaya menepis SARA.

“Posisi Kiai Ma’ruf (sebagai cawapres) diperkuat karena diyakini Kiai Ma’ruf tidak akan menjadi pesaing di 2024,” ungkap Henry kepada Tagar.

Apalagi, kata Henry, Ma’ruf Amin juga seorang profesor doktor, Rais ‘Aam PBNU, pernah menjadi jadi anggota DPR, Wantimpres, Komisaris Bank Syariah sehingga dinilai sebagai tokoh yang profesional.

“Sekarang dengan pencalonan Jokowi-Ma’ruf, sembilan partai pendukung solid. Isu SARA menjadi tidak relevan. Masa ketua MUI mau diserang kurang Islami?” tandasnya.

Maruf AminRais ‘Aam PBNU Ma’ruf Amin memberikan keterangan pers di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (9/8/2018). (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)

Ma’ruf Amin sebagai tokoh religius tentu mampu mempresentasi “umat” sebagai penggambaran “muslim santri”. Ini satu di antara segmen besar yang akan diperebutkan pada Pilpres 2019, selain kalangan muda atau milenial.

Sementara itu, dari data Kementerian Agama RI menyebutkan bahwa ada setidaknya 449,630 siswa Madrasah Aliyah (MA) yang mengikuti Ujian Nasional (UN) pada April 2018 lalu.

Seperti kita ketahui, peserta UN tersebut adalah mereka yang duduk di kelas dua belas. Artinya umur mereka berkisar 17 atau 18 tahun. Dengan kata lain mereka merupakan pemilih pemula dalam Pilpres 2019.

Angka itu tentu belum termasuk santri milenial (santri kelas 12) tahun ini yang juga bisa ikut menyuarakan pilihannya dalam gelaran Pilpres 2019 mendatang.

Namun, benarkah Ma’ruf Amin dipastikan mendapat suara dari para santri milenial yang akan menjadi pemilih pemula tersebut?

Hal ini nyatanya ditepis oleh Pengamat Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Adi Prayitno. Menurut dia, banyak sekolah Islam yang afilisianya ke ormas tertentu.

“Politik itu tak bisa sesederhana itu bahwa siswa Madrasah Aliyah kelas 11 atau 12 semuanya akan pilih KH Ma’ruf, misalnya ada SMA Muhammadiyah atau SMA Islam Terpadu (IT) yang dekat dengan PKS,” paparnya kepada Tagar, Rabu (15/8).

Kendati demikian, Adi menilai, Ma’ruf Amin dipastikan akan mendapatkan suara terbanyak di lingkungan Madrasah Aliyah berbasis NU.

“Paling mungkin bisa dibaca, siswa aliyah berbasis NU yang paling mungkin memikih KH Ma’ruf Amin,” pungkas Adi.

Lantaran pemilih Islam terfragmentasi ke berbagai organisasi masyarakat (ormas), Adi pun menilai, tak ada cara pasti untuk Ma’ruf Amin bisa merangkul seluruh santri milenial di Indonesia.

“Karena pemilih Islam kan terfragmentasi ke berbagai ormas seperti NU, Muhammadiyah, dan PKS. Jadi tak bisa dibaca (cara merangkul santri milenial) secara linear,” tutupnya mengakhiri pembicaraan dengan Tagar. (tagar.id/ac)

Leave a Reply