minangkabau hebrew

DEFINISI SURAU

A. Asal Kata

Surau berasal dari phonetic spelling kata Ibrani “sawraw” yang mengacu pada Sarah, istri Nabi Ibrahim AS atau ibu dari Nabi Ishak AS.

Oleh karena itu, dari segi studi linguistik dapat disimpulkan bahwa kata surau lazim digunakan oleh keturunan Bani Ishak, paman moyang bangsa Arab.

Al Quran menyebutkan Nabi Ibrahim memiliki dua orang istri yakni Siti Sarah yang melahirkan Nabi Ishak AS dan Siti Hajar yang melahirkan Nabi Ismail AS.

Meski, menurut kitab-kitab suci Yahudi,  Nabi Ibrahim AS (Avram, Avraham atau Abraham) juga memiliki istri ketiga bernama Keturah.

Dari Ishak turun Nabi Yaqub AS yang dikenal sebagai Israil, moyangnya bangsa Bani Israil, sementara dari Ismail turunlah bangsa-bangsa Arab hingga Nabi Muhammad SAW.

Selain kata benda, sawraw juga memiliki varian makna kata kerja yakni berjuang, bertahan, berkesinambungan, berlanjut, sehingga bisa dimaklumi jika ada ahli bahasa yang menterjemahkan kata surau sebagai “benteng pertahanan.”

Mengingat user kata surau hingga hari ini adalah bangsa Minangkabau yang matrilineal (garis ibu), maka dapat disimpulkan bahwa kata surau lebih pas mengacu kepada Siti Sarah, “Sang Matriarkat”  alias Bundo Kanduang.

Karena itu, bisa dimaklumi jika masih banyak kata-kata primitive root Ibrani ditemukan di Sumatera Barat a.l. seperti; agam (dari kata agam yang artinya genangan air di atas gunung), posuak (dari kata pasakh yang artinya pass over), malapeh (dari kata malave yang artinya melepaskan), tawa (dari kata tawhore yang artinya bersih).

Atau semisal lewa (dari kata lewah yang artinya mengumumkan), lapau (dari kata lavah yang artinya berkumpul, berkerumun, bergerombol) dan lulua (dari kata luwa yang artinya menelan) atau gadih (dari kata qodesh yang artinya suci atau perawan) dan semayam (dari kata shemayim yang artinya atas langit).

minangkabau hebrew
minangkabau hebrew

 

Plus, kata minangkabau sendiri berasa dari phonetic spelling mi-nay-kay-baw” .

Kalau dalam bahasa Arab dari adalah min, maka dalam Ibrani dari adalah mi, sementara naykaybaw atau nekevah artinya “perempuan” sehingga minangkabau dapat diartikan dengan “dari perempuan.”.

Catatan: Glosarium Minangkabau Hebrew sedang dalam rencana persiapan penerbitan ulang (restorasi) dan dukungan Anda sangat diharapkan di sini.

B. Beda dari masjid / mushola

Berbeda dari surau, masjid (tempat sujud) atau mushola (tempat sholat) memiliki batasan-batasan demi menjaga sakralitas tempat ibadah, sebagai contoh larangan bersiul dan bertepuk tangan:

Allah berfirman;

وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاءً وَتَصْدِيَةً

Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan…” (Al-Anfal: 35)

Selain itu, juga di masjid tidak boleh berjual beli, berdendang dan bernyanyi:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang bernyanyi dan berjual beli di Masjid. (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah pernah bersabda : “Siapapun mendengar seseorang bernyanyi-nyanyi tiada menentu di Masjid maka katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Masjid itu bukan tempat untuk bernyanyi.”  (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Sementara, surau lebih berfungsi sebagai community center di mana warga masyarakat bisa memanfaatkan surau untuk berbagai faedah, mulai dari tempat sholat, berkumpul, berdiskusi dan musyawarah, berlatih ilmu beladiri silat hingga ke berkesenian seperti tari, saluang dan randai.

Bahkan, fungsi surau yang banyak ditinggalkan orang modern adalah fungsi dormitorium dimana anak remaja pria dianjurkan menginap dan tidur di surau, terutama yang sudah akil baligh.

Peran surau di tengah masyarakat jauh lebih dinamis karena tidak semata menjangkau fungsi ritual agama saja seperti masjid atau mushola, tapi juga menjangkau fungsi komunal yang lebih luas dalam pranata-pranata sosial.

***